Osteoporosis
Feb 5 2026
5 menit baca

Jangan Sepelekan Tulang Keropos Jika Tak Ingin Menyesal Kemudian

Tak ada yang menginginkan masa tua dengan aktivitas terbatas dan selalu mengandalkan bantuan orang lain dalam kegiatan sehari-hari, maka dari itu cegah penyakit tulang keropos yang gejalanya jarang disadari. 

Tulang keropos atau yang dikenal juga dengan osteoporosis adalah kondisi di mana tulang secara perlahan kehilangan kepadatannya, membuatnya semakin rapuh dan rentan patah, bahkan dengan benturan ringan. Tulang yang sehat memiliki struktur padat, sedangkan pada osteoporosis, tulang menjadi keropos, dengan ruang-ruang kecil di dalamnya menjadi lebih besar, mirip seperti sarang lebah. Kondisi ini berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun dan sering kali tidak menunjukkan gejala hingga tulang mengalami kerusakan atau patah.

Proses pengeroposan tulang ini terjadi karena bagian luar tulang menjadi lebih lemah dan tipis dari seharusnya. Hal ini menyebabkan tulang kehilangan kekuatan dan mudah patah akibat trauma kecil. Patah tulang pada penderita osteoporosis sering terjadi di area yang paling rentan, seperti tulang panggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang. Sayangnya, beberapa tulang, terutama tulang panggul yang sudah rusak, tidak dapat sembuh dengan sempurna.

Meskipun sering dianggap sebagai bagian alami dari penuaan, osteoporosis sebenarnya dapat dicegah atau perkembangannya diperlambat. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki penurunan kepadatan tulang hingga terjadi patah tulang. Oleh karena itu, penting untuk mengenali risiko lebih awal dan melakukan pencegahan yang tepat.

Beginilah Osteoporosis Menggerogoti Hidup Penderitanya

Osteoporosis atau penyakit tulang keropos bukan macam penyakit encok, pegal, atau linu yang efeknya sesaat dan bisa cepat disembuhkan. Osteoporosis merupakan kondisi serius yang dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Mulai dari rasa nyeri yang memburuk, patah tulang, hingga stres dan depresi.  

  1. Nyeri
    Kondisi tulang keropos yang semakin memburuk seringkali memicu nyeri pada tulang, terutama di area tertentu seperti punggung, pinggul, leher, bahu, dan kaki.

  2. Patah Tulang (Fraktur)
    Penurunan kepadatan tulang membuatnya lebih rapuh, sehingga tulang menjadi lebih mudah patah akibat cedera ringan, seperti jatuh atau terpeleset. Patah tulang pinggul adalah salah satu yang paling sering terjadi pada penderita tulang keropos.

  3. Fraktur Kompresi
    Tulang belakang sangat rentan terhadap tulang keropos. Banyak penderita yang mengalami fraktur kompresi, di mana tulang belakang saling menumpuk akibat pengeroposan tulang. Fraktur kompresi sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari, seperti saat membungkuk atau mengangkat barang berat.

  4. Kehilangan Keseimbangan
    Nyeri yang disebabkan oleh osteoporosis bisa membuat tubuh terasa lebih kaku dan sulit bergerak, yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan. Hal ini meningkatkan risiko jatuh yang bisa memperburuk kondisi dengan patah tulang baru dan menciptakan siklus nyeri yang lebih parah.

  5. Penyakit Jantung Koroner
    Jika tulang keropos tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan jantung, khususnya meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Proses pengeroposan tulang yang cepat dapat meningkatkan kadar kalsium dalam darah, yang memperburuk pembentukan plak di pembuluh darah, menyebabkan aterosklerosis, dan akhirnya berpotensi memicu penyakit jantung.

  6. Memperburuk Penampilan
    Fraktur kompresi pada tulang belakang dapat menyebabkan penurunan tinggi badan, dengan kehilangan sekitar 15-20% dari tinggi tubuh semula. Hal ini terjadi karena tulang belakang yang menumpuk satu sama lain. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat menyebabkan kifosis (kyphosis), yaitu kelengkungan tulang belakang yang sering disebut sebagai bungkuk (humpback).

  7. Stres dan Depresi
    Tulang keropos tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga bisa berdampak buruk pada kondisi psikologis, terutama pada orang lanjut usia. Kesulitan dalam bergerak atau beraktivitas dapat mengurangi kualitas hidup dan menyebabkan stres serta depresi.

Osteoporosis Bukan Hanya karena Usia

Meskipun sering dianggap hanya menyerang orang lanjut usia, osteoporosis atau tulang keropos juga bisa memengaruhi mereka yang berusia 40 tahun ke atas, terutama bagi wanita yang sudah memasuki masa menopause. Data menunjukkan bahwa sekitar 23% wanita di Indonesia yang berusia antara 50 hingga 80 tahun mengalami penurunan kepadatan tulang yang berisiko menyebabkan tulang keropos.

Selain faktor usia, ada beberapa faktor lain yang juga berperan dalam meningkatkan risiko tulang keropos. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Jenis Kelamin 
  2. Tahukah Anda bahwa ternyata jenis kelamin juga berpengaruh terhadap risiko tulang keropos? Sayangnya, wanita lebih berisiko terkena tulang keropos dibandingkan pria, dengan tingkat risiko empat kali lebih tinggi, terutama wanita dari ras Kaukasia dan Asia. Hal ini disebabkan oleh massa tulang wanita yang lebih rendah dan ukuran tubuh yang cenderung lebih kecil, sehingga memengaruhi kepadatan tulangnya.

  3. Ukuran Tubuh 
  4. Tak hanya jenis kelamin, ternyata ukuran tubuh pun berpengaruh terhadap risiko tulang keropos. Orang dengan tubuh kecil atau kurus, baik wanita maupun pria, lebih rentan terhadap osteoporosis dibandingkan mereka yang memiliki tubuh lebih besar dan lebih berisi.

  5. Kondisi Hormon 
  6. Penurunan kadar hormon estrogen setelah menopause atau akibat tindakan medis seperti operasi ovarium atau kemoterapi dapat menghambat proses pembentukan tulang baru. Pada pria, rendahnya kadar testosteron juga turut meningkatkan potensi terjadinya tulang keropos.

  7. Riwayat Keluarga 
  8. Jika ada anggota keluarga yang mengidap osteoporosis, risiko Anda untuk mengalami tulang keropos juga meningkat. Keturunan memiliki peran penting dalam hal ini.

  9. Kekurangan Vitamin D 
  10. Vitamin D memegang peranan penting dalam penyerapan kalsium yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kekuatan tulang. Tanpa asupan vitamin D yang cukup, tubuh akan kesulitan menyerap kalsium dengan maksimal yang meningkatkan risiko osteoporosis.

  11. Kekurangan Kalsium 
  12. Kalsium adalah mineral yang sangat penting untuk kesehatan tulang. Jika tubuh kekurangan kalsium, tulang menjadi lebih rapuh dan berisiko tinggi mengalami keropos. Kekurangan kalsium dalam waktu lama juga bisa menyebabkan gangguan lain, seperti kram otot, masalah saraf, dan gangguan jantung.

  13. Hipoparatiroidisme 
  14. Hipoparatiroidisme adalah kondisi di mana tubuh kekurangan hormon paratiroid, yang berfungsi mengatur kadar kalsium dalam tubuh. Bila hormon ini rendah, tubuh tidak dapat mempertahankan kadar kalsium yang dibutuhkan, yang akhirnya dapat menyebabkan pengeroposan tulang. Pengobatan untuk kondisi ini biasanya dengan pemberian hormon paratiroid, obat-obatan, serta suplemen kalsium dan vitamin D untuk membantu memperbaiki kondisi tulang dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Cara-cara Perawatan Osteoporosis

Ada beberapa pendekatan yang biasa dilakukan untuk pengobatan penyakit tulang keropos, meliputi obat-obatan, terapi fisik, dan pola makan sehat.

  1. Obat-obatan
    Jika Anda didiagnosis dengan tulang keropos atau osteoporosis, dokter akan merancang perawatan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan Anda. Beberapa metode pengobatan yang umum digunakan untuk menangani osteoporosis meliputi:
    • Obat Bifosfonat
       Obat ini, yang tersedia dalam bentuk tablet atau injeksi, bekerja dengan memperlambat proses pengeroposan tulang. Bifosfonat membantu mempertahankan kepadatan tulang dan mengurangi risiko patah tulang.

    • Pengobatan Antibodi Monoklonal
       Obat ini berfungsi untuk menjaga kepadatan tulang serta mengurangi kemungkinan kerusakan tulang lebih lanjut. Biasanya, pengobatan ini diberikan melalui injeksi setiap enam bulan sekali.

    • Terapi Hormon
       Jika osteoporosis disebabkan oleh penurunan kadar hormon tertentu, terapi hormon dapat menjadi pilihan untuk menyeimbangkan kadar hormon tersebut dan memperlambat penurunan kepadatan tulang.

    • Peningkatan Asupan Kalsium dan Vitamin D
       Kalsium merupakan mineral esensial untuk menjaga kekuatan tulang, sedangkan vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium. Anda bisa memperoleh keduanya dari makanan sehari-hari seperti susu, sereal, atau suplemen yang direkomendasikan oleh dokter.

  2. Terapi Fisik
    Sebuah studi yang dilakukan oleh Training Muscle and Osteoporosis Rehabilitation (LIFTMOR) menyarankan latihan High-intensity Resistance and Impact Training (HiRIT) sebagai pilihan yang efektif untuk meningkatkan kesehatan tulang. Program ini melibatkan latihan dengan intensitas tinggi, dilakukan dua kali seminggu, selama 30 menit per sesi, dengan frekuensi latihan sekitar 80–85% dari repetisi maksimal. Latihan meliputi penguatan otot dengan gerakan seperti:
    • Deadlift:yaitu mengangkat beban dari lantai sampai berdiri tegak dengan punggung lurus.
    • Overhead press: yaitu mendorong beban dari bahu lurus ke atas kepala.
    • Back squat: yaitu jongkok dengan beban di punggung, seperti akan duduk di kursi, lalu berdiri lagi.
    • Jumping chin-ups dengan drop landing: yaitu melompat untuk melakukan chin-up, lalu mendarat dengan lembut sambil menekuk lutut untuk meredam benturan.
  3. Setiap gerakan dilakukan dalam 5 set dengan 5 repetisi per set. Program ini terbukti dapat meningkatkan kekuatan otot, yang pada gilirannya berhubungan dengan peningkatan massa tulang dan kinerja fungsional, terutama pada perempuan pasca-menopause dengan massa tulang yang rendah.

    Perlu diperhatikan, penting untuk menjalankan latihan fisik untuk penderita tulang keropos dengan cara yang tepat, terukur, dan sesuai anjuran dokter. Latihan harus dilakukan secara proporsional agar memberikan manfaat maksimal dan tetap menyenangkan. Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter olahraga sebelum memulai program latihan, untuk memastikan latihan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.

  4. Pola Makan dan Rutinitas Sehat
    Banyak mengonsumsi makanan yang kaya akan kalsium dan vitamin D. Beberapa sumber yang baik untuk kalsium dan vitamin D antara lain susu, keju, ikan berlemak, brokoli, bayam, sayuran hijau, pisang, jeruk, kacang-kacangan, dan ikan sarden. Selain itu, pastikan gaya hidup Anda seimbang dan sehat dengan menghindari kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, berolahraga rutin, dan melakukan pemeriksaan densitas tulang secara rutin untuk membantu mendeteksi osteoporosis lebih dini, sehingga pengobatan dan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat.

Ambil Tindakan Segera

Memahami berbagai faktor risiko tulang keropos sangat penting agar kita bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat sejak dini, terutama seiring bertambahnya usia. Menjaga kesehatan tulang bukan hanya tentang menghindari kerapuhan, tetapi juga untuk memastikan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. 

Jika Anda memiliki pertanyaan tentang kesehatan tulang Anda atau berisiko tinggi terhadap tulang keropos atau osteoporosis, segera buat janji temu dengan dokter spesialis ortopedi terbaik di rumah sakit jaringan IHH Healthcare Malaysia. Dengan fasilitas medis canggih dan tim spesialis terbaik, kami akan merancang perawatan tulang keropos yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Hubungi kami untuk jadwalkan pemeriksaan dan mulai langkah pertama menuju tulang yang lebih kuat dan sehat dan kualitas hidup yang lebih baik!

Bell mobile

Butuh bantuan?
Hanya dengan satu klik, kami siap membantu.

Tanyakan apa saja kepada kami, mulai dari konsultasi sebelum janji temu, rekomendasi rumah sakit, jadwal dan janji temu dokter, perkiraan biaya, dan banyak lagi.

Jam Operasional*: Setiap Senin - Jumat, 8AM - 8PM (UTC+8)
*Kecuali pada hari libur nasional di Malaysia

Butuh bantuan?
Hanya dengan satu klik, kami siap membantu.

Tanyakan apa saja kepada kami, mulai dari konsultasi sebelum janji temu, rekomendasi rumah sakit, jadwal dan janji temu dokter, perkiraan biaya, dan banyak lagi.

Jam Operasional*: Setiap Senin - Jumat, 8AM - 8PM (UTC+8)
*Kecuali pada hari libur nasional di Malaysia

Janji Temu
Whatsapp
Tanya Dokter
Panduan Perjalanan

Have a question?

We're here to help.